Gempa Bumi Dahsyat Bisa Terjadi di Bali
TIMOROMAN.COM-Menyusul gempa kuat di Jepang, para pejabat Indonesia memperingatkan risiko adanya “patahan super” di zona patahan Sumba, yang dapat memicu gempa bumi dan tsunami besar.
Hanya beberapa jam setelah gempa bumi, Badan Meteorologi Jepang mengeluarkan peringatan khusus tentang peningkatan risiko gempa bumi kuat dengan magnitudo 8 atau lebih tinggi dalam beberapa hari mendatang. Probabilitas terjadinya “gempa super” dinaikkan menjadi 1%, jauh lebih tinggi daripada angka normal 0,1%.
Perkembangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia mengeluarkan peringatan baru tentang risiko “megathrust” – gempa bumi super yang dapat mencapai magnitudo 9 pada skala Richter – di wilayah Bali.
Menurut Survei Geologi AS (USGS), “megathrust” adalah fenomena yang terjadi ketika lempeng tektonik yang terjebak di zona patahan tiba-tiba bergeser ke bawah lempeng yang berdekatan, melepaskan energi yang sangat besar dan menyebabkan gempa bumi yang sangat kuat. Selain itu, gempa bumi yang lebih kecil sering terjadi di kerak bumi atau lempeng tektonik di bawahnya.
Daerah-daerah seperti Bali, Sumba, dan Kepulauan Flores diprediksi akan terkena dampak paling parah jika skenario gempa bumi dahsyat terjadi.
Namun, BMKG menekankan bahwa peringatan saat ini hanyalah penilaian risiko, bukan prediksi akurat tentang kapan gempa bumi akan terjadi.
Menurut Pusat Penelitian Gempa Nasional Indonesia, Bali terletak di wilayah yang berpotensi terdampak zona patahan Sumba – salah satu titik rawan dengan potensi risiko gempa megathrust. Namun, peringatan yang dikeluarkan terutama bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan tanggap masyarakat.
Para ilmuwan percaya bahwa hanya masalah waktu sebelum Indonesia dilanda gempa bumi dahsyat, tetapi saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi secara akurat kapan hal itu akan terjadi.
Peta sumber dan risiko gempa bumi Indonesia tahun 2024 telah mengidentifikasi 14 “titik panas” megathrust di sekitar kepulauan, meningkat dari 13 pada tahun 2017.
Dari sekian banyak wilayah tersebut, dua wilayah dianggap berisiko tinggi dan “sudah lama tertunda” terjadinya gempa bumi besar: Selat Sunda – dekat Bali, terakhir diguncang pada tahun 1757 – dan wilayah Mentawai-Siberut, tempat gempa bumi besar terakhir terjadi pada tahun 1797.
Selain itu, Bali menghadapi risiko tsunami yang timbul dari gempa bumi dahsyat di Palung Nankai di lepas pantai Jepang – zona patahan sepanjang kurang lebih 900 km tempat Lempeng Laut Filipina menunjam di bawah Lempeng Eurasia.
Pejabat Indonesia memperingatkan bahwa jika terjadi gempa besar di kawasan ini, gelombang tsunami dapat meluas dan memengaruhi wilayah Indonesia.
Dalam setahun terakhir, Bali telah mencatat hingga 547 gempa bumi, menunjukkan tingkat aktivitas seismik yang sangat padat di kawasan tersebut.
Indonesia saat ini dianggap sebagai negara dengan aktivitas seismik terkuat di dunia, sementara Jepang berada di peringkat ketiga, menurut data terbaru dari organisasi penelitian seismik internasional.
Baru-baru ini, sebuah gempa berkekuatan 6 skala Richter juga terjadi di wilayah Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur (Indonesia). Pusat gempa berada sekitar 67 km di barat laut kawasan tersebut, dengan kedalaman 31 km.
Otoritas terkait memastikan gempa tersebut tidak menimbulkan ancaman tsunami. Getaran terkuat tercatat di Atambua, mencapai tingkat 3–4 pada skala intensitas Mercalli yang dimodifikasi, menyebabkan banyak benda bergetar dan kaca jendela berderik. ***

