Kesalahan Umum Saat Hidrasi di Cuaca Panas

TIMOROMAN.COM-Saat cuaca panas, banyak orang memilih minum air es untuk menghilangkan dahaga. Meski terasa menyegarkan, kebiasaan ini ternyata dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan, terutama bagi ginjal. Ketika suhu lingkungan meningkat, tubuh kehilangan cairan lebih cepat melalui keringat, sehingga kebutuhan hidrasi meningkat. Namun, cara minum yang salah justru bisa menimbulkan masalah.

Salah satu kesalahan umum adalah meneguk air dalam jumlah besar sekaligus setelah beraktivitas di luar ruangan. Menurut India Times, kebiasaan ini dapat menyebabkan kembung dan kelebihan cairan dalam waktu singkat. National Kidney Foundation menegaskan bahwa ginjal memiliki kapasitas terbatas dalam memproses cairan. Jika asupan air berlebihan, kadar natrium dalam darah bisa menurun drastis, memicu hiponatremia dengan gejala mulai dari mual hingga kejang.

Selain itu, konsumsi air es berlebihan setelah terpapar sinar matahari juga tidak disarankan. NDTV menjelaskan bahwa tubuh yang sedang mengalami vasodilatasi termal dapat terganggu oleh masuknya cairan yang terlalu dingin, memicu vasokonstriksi mendadak dan mengganggu sistem peredaran darah. Meski tidak langsung merusak ginjal, kondisi ini memberi tekanan tambahan pada sistem ekskresi.

Kesalahan lain adalah hanya minum ketika merasa haus. Menurut Mayo Clinic, rasa haus merupakan sinyal yang muncul terlambat. Artinya, tubuh sudah mengalami dehidrasi ketika sinyal itu muncul. Jika kebiasaan ini terus berlanjut, risiko batu ginjal dan infeksi saluran kemih meningkat. Karena itu, minum sedikit demi sedikit secara teratur lebih baik, dan tambahan elektrolit juga penting untuk mencegah ketidakseimbangan cairan.

Kebiasaan menyimpan air kemasan di dalam mobil saat musim panas juga berbahaya. Suhu tinggi dapat memicu pelepasan zat kimia dari plastik ke dalam air. Dr. Nhan Tong Hai dari Taiwan memperingatkan bahwa paparan jangka panjang terhadap zat pengganggu endokrin atau logam berat dari botol plastik berwarna dapat memengaruhi sistem saraf, ginjal, dan tulang.

Selain itu, mengganti air putih dengan minuman manis atau soda juga berisiko. Menurut NIDDK, konsumsi minuman manis secara rutin meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit ginjal kronis. Kadar gula darah tinggi membuat ginjal bekerja lebih keras, yang pada akhirnya dapat merusak fungsi penyaringan.***

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *