Mengapa Anak Muda Timor Leste Masih Tergoda Rokok?
TIMOROMAN.COM-Di sebuah warung kecil di Dili, asap rokok bercampur dengan aroma kopi hitam yang kental. Pemandangan ini bukan hal asing: laki-laki muda duduk berkelompok, sebagian baru berusia belasan, dengan rokok terselip di jari.
Meski pemerintah Timor Leste bersama WHO gencar menggalakkan kampanye antirokok, tembakau tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bahkan masih menarik perokok baru.
Harga rokok yang relatif murah dibanding negara tetangga membuatnya mudah dijangkau. Di pasar, rokok impor ilegal dari perbatasan Indonesia beredar bebas, tanpa cukai, sehingga semakin menekan harga.
Bagi anak muda, ini berarti rokok bukan barang mewah, melainkan bagian dari gaya hidup yang bisa dibeli dengan uang saku harian. Norma sosial juga berperan: merokok masih dianggap sebagai simbol kedewasaan dan pergaulan, terutama di kalangan pria.
Namun, di balik itu, pemerintah Timor Leste tidak tinggal diam. Larangan iklan rokok di media massa sudah diberlakukan, peringatan bergambar menghiasi bungkus rokok, dan wacana kenaikan cukai terus digulirkan.
Di sekolah-sekolah, kampanye kesehatan berusaha menanamkan kesadaran sejak dini. Meski begitu, tantangan besar tetap ada: penegakan hukum terhadap rokok ilegal belum maksimal, dan budaya merokok masih kuat melekat.
Fenomena ini menempatkan Timor Leste dalam dilema. Di satu sisi, negara muda ini ingin melindungi generasi penerus dari bahaya tembakau. Di sisi lain, realitas sosial dan ekonomi membuat rokok tetap menjadi pilihan mudah bagi banyak orang.
Pertanyaannya, apakah kebijakan yang ada cukup kuat untuk mengubah kebiasaan yang sudah mengakar, atau justru tembakau akan terus menjadi pintu masuk bagi perokok baru di negeri yang sedang membangun masa depannya?***

