Sejarah Portugal di Timor Leste

TIMOROMAN.COM-Kehadiran Portugis di pulau Timor pada awalnya terbatas pada perdagangan dengan pemukiman Portugis di pulau sekitarnya. Kehadiran mereka kemudian lebih terasa pada abad ke-17 ketika Portugis disingkirkan dari pulau-pulau lain oleh Belanda.

Setelah Belanda menguasasi pulau Solor pada tahun 1613, Portugis kemudian memindahkan pusat administrasinya ke pulau Flores, kemudian berpindah ke Kupang di pulau Timor bagian barat pada tahun 1646, sebelum akhirnya menyingkir ke Lifau, yang saat ini merupakan bagian dari eksklave Oecusse-Ambeno.

Kolonisasi pulau tersebut dimulai pada tahun 1769, ketika kota Dili didirikan, meski kontrol Portugis atas pulau Timor masih sangat terbatas. Perbatasan Timor Belanda dan Timor Portugis sendiri baru ditetapkan pada tahun 1914 dalam Mahkamah Arbitrase Antarabangsa, yang saat ini menjadi perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste.

Bagi Portugis, Timor Timur hanya sebuah pos dagang yang tidak begitu diperhatikan. Investasi ke dalam infrastruktur dan pendidikan koloni tersebut masih sangat minim hingga abad ke-19. Meskipun Portugal telah memiliki kontrol atas bagian dalam pulau, pembangunan masih relatif minim. Adapun cendana masih menjadi tanaman ekspor yang dihasilkan dari koloni tersebut, bersamaan dengan kopi yang mulai ditanam setidaknya sejak pertengahan abad ke-19.

Pada abad ke-20, ekonomi dalam negeri mengalami keterpurukan sehingga mendorong Portugis untuk mengekstrasi kekayaan di wilayah koloninya. Hal ini menimbulkan berbagai gerakan perlawanan dari masyarakat pribumi di Timor Portugis. Koloni tersebut sering dianggap sebagai beban ekonomi, terutama pada masa Depresi Besar, dan hanya menerima sedikit manajemen dan dukungan dari Portugal.

Pada waktu Perang Dunia II, Dili diduduki oleh Sekutu pada tahun 1941, dan kemudian oleh Jepang pada tahun 1942. Pegunungan di pulau Timor menjadikan koloni tersebut menjadi bagian dari kampanye gerilya yang dikenal sebagai Pertempuran Timor.

Pasukan Sekutu bersama dengan sukarelawan pribumi bersama-sama bertempur melawan pasukan Jepang, yang mengakibatkan sekitar 40.000 hingga 70.000 rakyat sipil tewas. Jepang pada akhirnya menguasai pulau tersebut dan mengusir Pasukan Australia dan Sekutu pada tahun 1943.

Portugal kemudian memulai investasi ke koloni tersebut sejak tahun 1950-an, dengan mendanai pendidikan dan mempromosikan ekspor kopi. Kendati demikian, perekonomian koloni tidak kunjung membaik dan pengembangan infrastruktur masih terbatas.

Pertumbuhan ekonomi koloni hanya meningkat 2 persen setiap tahunnya. Keadaan tersebut pada akhirnya memuncak ketika Portugal meninggalkan koloni tersebut setelah Revolusi Anyelir pada tahun 1974.

Penelantaran tersebut memicu terjadinya perang saudara di antara partai politik di Timor Timur. Partai Front Revolusi Independen Timor Leste (Fretilin) melawan upaya pengambilalihan kekuasaan oleh Uni Demokrasi Timor (UDT) pada bulan Agustus 1975 dan memproklamasikan kemerdekaan secara sepihak pada tanggal 28 November 1975 sebagai Republik Demokratik Timor Leste.

Indonesia, yang takut akan adanya negara komunis di kepulauan Nusantara, melancarkan operasi militer dan menginvasi Timor Timur pada tanggal 7 Desember 1975. Pada tanggal 17 Juli 1976, Indonesia mendeklarasikan Timor Timur sebagai provinsi ke-27.

Merespons hal tersebut, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menentang invasi tersebut dan teritori Timor Timur pada saat itu dianggap sebagai “wilayah yang tidak memiliki pemerintahan sendiri di bawah administrasi Portugis”.***

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *