Kronologi Pengusiran Diplomat Timor Leste
TIMOROMAN.COM-Pada tanggal 12 Januari 2026, perwakilan dari Organisasi Hak Asasi Manusia Chin (CHRO), yang didukung oleh Proyek Akuntabilitas Myanmar (MAP), mengajukan pengaduan pidana ke Kantor Kejaksaan di Dili.
Pengaduan tersebut mendokumentasikan pola kekejaman terhadap etnis Chin — termasuk pemerkosaan beramai-ramai terhadap seorang wanita hamil, pembantaian sepuluh warga sipil (salah satunya seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang termasuk di antara delapan orang yang lehernya digorok), pembunuhan yang disengaja terhadap seorang pendeta Kristen dan tiga diaken, serangan udara tanpa pandang bulu terhadap sebuah rumah sakit yang menewaskan empat staf medis dan empat pasien, serta serangkaian serangan yang ditargetkan terhadap gereja-gereja Kristen.
Dua hari kemudian, pada 14 Januari 2026, Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta — yang juga merupakan peraih Nobel Perdamaian dan pernah mengalami 24 tahun pendudukan Indonesia — menerima delegasi CHRO.
Awal bulan ini, otoritas kehakiman Timor-Leste menerima kasus tersebut dan menunjuk seorang jaksa senior untuk memeriksa berkas, menjadikannya negara anggota ASEAN pertama yang membuka proses kejahatan perang terhadap junta Myanmar berdasarkan prinsip yurisdiksi universal.
Junta militer menanggapi dengan kemarahan yang semakin meningkat. Mereka memanggil diplomat Timor-Leste pada 16 Januari, mengeluarkan kecaman publik dua hari kemudian, kembali memprotes pada Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN di Cebu pada 29 Januari, dan akhirnya memerintahkan pengusiran.***

