Wabah Demam Berdarah di Timor Leste, 5 Meninggal 1.000 Kasus
TIMOROMAN.COM-Ibu kota Timor-Leste, Dili, sedang bergulat dengan wabah demam berdarah. Lima anak telah meninggal, dan lebih dari seribu kasus telah tercatat hanya dalam sebulan terakhir.
Lonjakan infeksi telah membanjiri rumah sakit, dengan kekurangan tempat tidur memaksa beberapa pasien untuk dirawat sambil duduk di kursi. demikian menurut Pasific Beat.
“Kami kekurangan segalanya, bukan hanya peralatan medis,” kata Dr. Vidal de Jesus Lopes, direktur Rumah Sakit Nasional Guido Valadares.
“Kami bahkan menghadapi kekurangan staf… kami harus memaksimalkan apa yang sedikit kami miliki.”
Demam Berdarah Dengue adalah masalah kesehatan global yang signifikan. WHO melaporkan 14,3 juta kasus di lebih dari 112 negara pada tahun 2024, dengan estimasi 100–400 juta infeksi setiap tahunnya. Beban terbesar kasus global, sekitar 75%, berada di Asia, terutama di Asia-Pasifik dan Asia Tenggara, di mana DBD bersifat endemik sepanjang tahun.
Demam berdarah tetap juga menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di banyak wilayah Indonesia. Meskipun merupakan penyakit yang sudah lama dikenal, kasusnya terus berlanjut dan menyebabkan kecemasan yang meluas. Hingga Mei 2025, Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat lebih dari 56.000 kasus demam berdarah dan 250 kematian.
Di Tasikmalaya, 607 kasus dilaporkan dari Januari hingga September, sementara Rumah Sakit Kota Batam mencatat 79 kasus hanya pada tahun 2025.
Profesor Eggi Arguni dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menjelaskan bahwa anak-anak tetap menjadi kelompok yang paling rentan terhadap infeksi demam berdarah.
“Sebagian besar kasus demam berdarah di Indonesia masih terjadi pada anak-anak, terutama yang berusia di bawah sepuluh tahun,” kata Profesor Arguni.
Menurutnya, peningkatan kasus demam berdarah pada anak-anak terutama disebabkan oleh dua faktor: sistem kekebalan tubuh mereka yang belum berkembang dan kemungkinan besar terpapar di sekolah dan di rumah. Dia juga mencatat bahwa bayi juga berisiko karena antibodi ibu terkadang dapat memicu respons imun yang lebih kuat ketika mereka terinfeksi virus dengue.***

