Risiko Diabetes dan Gagal Jantung, Sering Minum Boba dan Kopi Susu
TIMOROMAN.COM-Kebiasaan mengonsumsi minuman manis kekinian seperti boba dan kopi susu gula aren secara berlebihan dapat meningkatkan risiko diabetes melitus hingga memicu penyakit jantung dan gagal jantung di usia muda. Tren perubahan gaya hidup membuat penyakit yang dahulu identik dengan usia lanjut kini mulai banyak mengintai generasi muda.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan, dr. Rahima Ratna Juwita, mengungkapkan, konsumsi gula tambahan yang tinggi dalam jangka panjang menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kasus diabetes melitus. Penyakit tersebut merupakan faktor risiko penting terjadinya penyakit jantung koroner maupun gagal jantung.
“Kalau dulu penyakit diabetes dan penyakit jantung lebih banyak ditemukan pada usia di atas 40 atau 50 tahun, sekarang sudah mulai bergeser karena perubahan gaya hidup. Konsumsi minuman manis seperti boba atau kopi susu gula aren setiap hari sangat tidak baik karena meningkatkan risiko diabetes melitus yang kemudian dapat berujung pada penyakit jantung,” kata dr. Rahima dalam program Zona Edukasi RRI Labuan Bajo, Senin 27 Juli 2026.
Selain meningkatkan risiko diabetes, ia menjelaskan konsumsi makanan dan minuman tinggi gula yang tidak diimbangi aktivitas fisik juga memicu obesitas. Kondisi tersebut dapat membebani kerja jantung dan menurunkan kemampuan organ tersebut dalam memompa darah secara optimal.
Menurut dr. Rahima, ancaman terhadap kesehatan jantung pada usia muda tidak hanya dipengaruhi pola makan. Tekanan pekerjaan, stres berkepanjangan, serta kebiasaan begadang juga memperberat beban kerja jantung. Saat tidur, jantung memasuki fase istirahat sehingga kurang tidur membuat detak jantung tetap tinggi dan bekerja lebih keras, terlebih jika disertai stres dan kecemasan yang dapat memicu gangguan irama jantung hingga sesak dada.
Lebih lanjut, dirinya juga mengingatkan bahwa gagal jantung bukan hanya dialami kelompok lanjut usia. Sejumlah kasus pada usia muda dapat dipicu penyakit jantung bawaan yang belum terdeteksi maupun riwayat infeksi katup jantung yang baru menimbulkan gejala saat memasuki usia 20 hingga 30 tahun. Karena itu, anak muda diminta tidak mengabaikan keluhan seperti mudah terengah-engah saat berjalan atau naik tangga meski melakukan aktivitas ringan.
Sebagai langkah pencegahan, dr. Rahima mengimbau masyarakat membatasi konsumsi gula tambahan dengan memilih air putih sebagai minuman utama, menghindari rokok, rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, serta menerapkan pola tidur yang cukup dan mengelola stres.
“Jantung itu investasi masa depan. Rawat dan jaga sejak dini, jangan menunggu sampai muncul gejala atau terlambat,” ungkapnya.***

