Lemahnya Pengawasan Dinas PUBM SDA di Bidang Jalan Sidoarjo, Pemeliharaan Jalan Putat – Putat Diduga Tidak Sesuai Spesifikasi
TIMOROMAN.COM– Proyek Pemeliharaan Jalan Putat – Putat di Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, kini menjadi sorotan warga.
Pekerjaan infrastruktur yang seharusnya menunjang akses dan mobilitas warga tersebut diduga dikerjakan di bawah spesifikasi teknis.
Lemahnya pengawasan dari Dinas PUBM SDA di Bidang Jalan Kabupaten Sidoarjo dinilai menjadi salah satu faktor utama munculnya berbagai kejanggalan di lapangan.
Berdasarkan laporan warga disampaikan ke Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) LASYKAR ABBABIL Kabupaten Sidoarjo dan segera melakukan pemantauan langsung terhadap kondisi fisik jalan.
“Warga masyarakat setempat yang dimintai tanggapannya, mengatakan bahwa mutu kualitas pekerjaan dibawah standar dan umurnya tidak akan bertahan lama, apalagi ketebalan Aspal terlihat sangat tipis,” ungkap warga setempat.
Dari hasil investigasi awal, ditemukan sejumlah indikasi yang mengarah pada kualitas pekerjaan yang dinilai tidak sesuai standar.
Salah satu temuan utama adalah ketebalan aspal yang diduga hanya sekitar 2 sentimeter, jauh dari ketentuan teknis yang lazim diterapkan proyek jalan kabupaten.
Selain ketebalan yang dipersoalkan, permukaan aspal di sejumlah titik terlihat kasar, tidak rata, dan mudah terkelupas.
Kondisi tersebut menimbulkan dugaan bahwa proses pencampuran material, pelapisan lapis resap pengikat (prime coat), hingga tahap penghamparan dan pemadatan tidak dilakukan secara optimal.
Akibatnya, struktur perkerasan jalan berpotensi mengalami kerusakan lebih cepat sebelum mencapai umur layanan yang seharusnya.
Hasil dokumentasi lapangan juga menunjukkan adanya retakan rambut dan pori -pori terbuka pada lapisan aspal, Minggu (22/02/2026).
Butiran agregat yang mudah lepas menjadi indikasi bahwa tingkat kepadatan minimal yang dipersyaratkan kemungkinan tidak tercapai.
Jika kondisi ini dibiarkan, kerusakan struktural jalan dikhawatirkan akan semakin parah, terutama saat memasuki musim hujan dengan intensitas lalu lintas yang cukup tinggi.
Minimnya transparansi proyek turut menjadi perhatian serius. Di lokasi pekerjaan tidak ditemukan papan informasi proyek yang memuat nilai anggaran, volume pekerjaan, maupun identitas kontraktor pelaksana.
Kondisi ini dinilai bertentangan dengan prinsip keterbukaan informasi publik dan menyulitkan masyarakat dalam melakukan pengawasan sosial.(Ud/Rk)


