Pengusaha Tiongkok Terus Bertambah di Timor Leste, Ini Sebabnya

TIMOROMAN.COM-Kehadiran perusahaan dan pengusaha asal Tiongkok terus meningkat pesat di dalam negeri, mulai dari toko kecil hingga proyek infrastruktur besar.

Fenomena ini membuat sebagian orang menyebutnya sebagai “tsunami ekonomi” yang memunculkan diskusi panjang mengenai masa depan daya saing pengusaha lokal Timor Leste.

Dalam beberapa tahun terakhir, terutama memasuki tahun 2026, pengaruh Tiongkok tidak hanya terlihat pada pembangunan yang difasilitasi pemerintah, tetapi juga mulai mendominasi kehidupan sehari-hari. Contohnya, sejumlah pria Tiongkok menikahi perempuan Timor untuk mempermudah menjalankan aktivitas bisnis bebas, sehingga menutup peluang bagi pengusaha lokal untuk bertahan melalui jalur usaha.

Pengamat politik, Jacinto Gaio, dalam sebuah wawancara menjelaskan bahwa pengusaha Tiongkok memiliki modal besar dan pengalaman yang jauh lebih tinggi dibandingkan sektor swasta lokal maupun pengusaha Timor yang masih berada dalam tahap pengembangan.

“Kalau kita bandingkan pengusaha Tiongkok dengan sektor swasta lokal dan pengusaha Timor, jaraknya masih jauh. Tiongkok datang dengan modal besar, bukan kecil, dan itu kalau kita bicara memang tidak mudah,” ujar Jacinto kepada STL di Kaikoli, Dili, Kamis (12/02/2026).

Namun sebelumnya, Presiden Republik, José Ramos-Horta, menegaskan bahwa kemitraan Timor Leste dengan Tiongkok membawa manfaat bagi perekonomian dalam negeri.

Menurutnya, Tiongkok memberikan banyak opsi strategis bagi Timor Leste untuk mengembangkan negara, meski Timor Leste juga harus bijak agar tidak bergantung sepenuhnya pada negara asing.

Penyebab Datangnya Warga China
Jumlah warga negara Tiongkok di Timor Leste pada 2026 diperkirakan sekitar 4.000–5.000 orang. Data ini berasal dari laporan resmi dan analisis beberapa tahun terakhir yang menyebutkan bahwa komunitas Tiongkok di Timor Leste terus bertambah, terutama karena keterlibatan mereka dalam proyek infrastruktur besar, perdagangan, dan usaha kecil menengah.

Kehadiran mereka terlihat mulai dari toko-toko kecil hingga perusahaan konstruksi besar yang bekerja sama dengan pemerintah Timor Leste. Angka pastinya bisa berubah dari tahun ke tahun, karena tidak semua warga Tiongkok yang datang tercatat secara resmi. Tren menunjukkan bahwa jumlah mereka meningkat seiring dengan semakin banyaknya investasi Tiongkok di Timor Leste. Perkiraan kasar menunjukkan warga Tiongkok ini sama jumlahnya dengan WNI.

Diwartakan South China Morning Post, di Plaza Timor, nyaris semua toko dan tempat perbelanjaan dimiliki oleh orang Tionghoa.

Salah satu pedagangnya bernama Ma Liyu, seorang wanita yang mengaku berasal dari kota Ningde di Provinsi Fujian, China.bMa Liyu datang jauh-jauh ke Timor Leste untuk berdagang daun teh dan aksesoris handphone.

Ia memutuskan pindah sejak 11 tahun yang lalu.

Lantaran, ia mendengar kabar akan sangat mudah untuk menghasilkan uang di negara Timor Leste.

Tetu saja prosesnya tidak mudah, Ma Liyu menuturkan, dirinya sempat ditipu oleh imigran China lainnya dan harus kehilangan tabungannya sebanyak 70.000 dollar AS (Rp 100 juta kurs 2021).

Mica Barreto Soares, seorang peneliti tentang hubungan China-Timor-Leste dan kontributor Routledge Handbook of Contemporary Timor-Leste 2019 mengungkap penelitiannya.

Ia memperkirakan, sekitar 4.000 Migran China tinggal di negara itu pada 2019.

Mereka telah mendirikan 300 hingga 400 perusahaan bisnis.

Ini termasuk menjual barang-barang murah dan bahan bangunan, serta menjalankan restoran, hotel, rumah bordil, warung internet, dan pompa bensin, tulisnya.

Graeme Smith, seorang peneliti di Departemen Urusan Pasifik dari Universitas Nasional Australia dan pembawa acara The Little Red Podcast, yang menangani urusan China juga mengungkap penelitiannya.

Ia mengatakan, China melihat kepentingan strategis dalam mengakui Timor Leste terlebih dahulu.

Lantaran, persaingan geopolitiknya dengan Taiwan serta potensi Selat Wetar yang dipandang sebagai jalur pelayaran alternatif ke Selat Malaka.

“Alasan tergesa-gesa China dalam mengakui Timor Leste pada 2002, sebagian karena Timor Leste sebagai negara bangsa terbaru di dunia dan salah satu yang diminati oleh para diplomat Taiwan,” kata Smith.

Soares mengatakan, nilai investasi China di Timor Leste “sangat-sangat kecil” dibandingkan dengan Indonesia dan Australia.

Namun, investasi infrastrukturnya lebih terlihat.

China membantu membangun kementerian luar negeri Timor Leste, kementerian pertahanan dan gedung-gedung kantor kepresidenan dan jaringan listrik negara serta jalan raya lintas negara.

Perusahaan China terlihat meningkatkan ekonomi Timor Leste dengan menurunkan harga dan meningkatkan persaingan.***

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *