Timor Leste Pilih Nonblok di Tengah Situasi Perang Iran-Israel
TIMOROMAN.COM-Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) menegaskan posisi negara itu tidak berpihak di tengah situasi perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Sikap diplomatik itu disampaikan Counsellor dari Embassy of the Democratic Republic of Timor Leste Domingos Savio di Jakarta pada Rabu (29/4/2026).
Timor Leste, kata Domingos Savio, memilih untuk tetap berada di tengah dan tidak berpihak ke negara manapun.
“Kebijakan luar negeri Timor-Leste mirip dengan Indonesia: berteman dengan semua negara dan tidak memusuhi siapa pun,” ujar Domingos Savio.
Dia mengaku hubungan Timor Leste dengan semua negara dijaga dengan baik.
“Namun, karena posisi geografis kami di antara Indonesia dan Australia, hubungan bilateral dengan kedua negara tersebut menjadi sangat penting,” ucapnya.
Savio menyadari stok BBM yang mulai terdampak karena penutupan Selat Hormuz, menjadi momentum bagi semua negara untuk mulai serius dengan menggunakan energi alternatif atau terbarukan.
Menurutnya, perang ini baru saja dimulai, namun sudah memicu pemikiran di banyak negara tentang energi terbarukan.
“Semua negara mulai mempertimbangkan hal tersebut, tetapi implementasinya di Timor-Leste sendiri belum jelas. Saat ini, kebutuhan energi masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Jika kebutuhan meningkat, maka harus diimpor dari luar negeri, seperti dari Indonesia, Singapura, atau Malaysia—setidaknya itu yang saya ketahui,” katanya.
Semua pihak, kata Savio, berharap perang ini segera berakhir agar situasi bisa kembali normal.
Namun, menurutnya meskipun perang berakhir besok, pemulihan tidak akan cepat karena banyak infrastruktur minyak di Timur Tengah yang rusak.
“Pemulihannya akan memakan waktu lama, dan dampaknya tidak hanya di kawasan tersebut, tetapi juga di seluruh dunia,” ujarnya.
Ia mencontohkan saat ini, misalnya Australia harus menjalin kerja sama dengan Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam untuk mengamankan pasokan bahan bakar. Di Uni Eropa juga terjadi hal serupa.
“Bahkan Amerika Serikat yang sebelumnya memberlakukan embargo minyak terhadap Rusia dan Iran kini mulai melonggarkan kebijakan tersebut karena tekanan harga yang dirasakan masyarakat.”
“Embargo itu sudah berlangsung lebih dari 40 tahun. Namun sekarang, karena harga semakin tinggi dan masyarakat harus membayar lebih mahal, terutama di negara demokrasi, muncul tekanan dan kritik terhadap pemerintah,” tuturnya. ***

