Megawati Menerima Penghargaan Negara Tertinggi di Timor-Leste
TIMOROMAN.COM-Mantan Presiden Indonesia Megawati Soekarnoputri menerima penghargaan sipil tertinggi Timor-Leste pada hari Kamis, sebagai pengakuan atas peran pentingnya dalam menormalisasi hubungan bilateral setelah kemerdekaan negara kepulauan tersebut.
Presiden José Ramos-Horta menganugerahkan Megawati Grande Colar da Ordem de Timor-Leste dalam sebuah upacara resmi di Istana Kepresidenan Nicolau Lobato.
Perdana Menteri Kay Rala Xanana Gusmão juga hadir dalam acara tersebut.
Menurut dekrit yang dibacakan oleh Kepala Staf Kepresidenan Henriqueta Maria da Silva, penghargaan tersebut mengakui kontribusi signifikan Megawati dalam memupuk persahabatan, dialog, dan normalisasi diplomatik antara kedua negara tetangga.
Dalam pidatonya, Presiden Ramos-Horta memuji kepemimpinan Megawati selama transisi demokrasi Indonesia yang penuh gejolak pada tahun 1999.
Ia mencatat penerimaan damai Megawati terhadap hasil konstitusional ketika ia menjabat sebagai wakil presiden, dengan menempatkan stabilitas demokrasi di atas ambisi pribadi.
Ia juga memuji pendekatan pragmatis Megawati sebagai presiden kelima Indonesia dari tahun 2001 hingga 2004, di mana ia mendukung transisi yang didukung PBB dan membangun fondasi diplomatik yang kuat dengan Dili.
“Megawati dengan tenang menerima keputusan konstitusional dan menerima jabatan Wakil Presiden,” kata Ramos-Horta. “Ia menempatkan kepentingan demokrasi di atas aspirasi sahnya sendiri. Pilihan itu merupakan salah satu bukti tertinggi dari kepemimpinan negara yang sejati.”
Saat menerima medali tersebut, Megawati menggambarkan penghargaan itu sebagai mandat untuk masa depan, bukan hanya tonggak sejarah.
“Penghargaan Grand Collar ini bukan hanya medali; ini adalah rantai yang saling terkait,” kata Megawati. “Persahabatan antara Indonesia dan Timor-Leste adalah rantai yang harus terus berlanjut—dari satu generasi ke generasi berikutnya, tanpa pernah terputus.”
Megawati juga merenungkan perjuangan bersama Indonesia dan Timor-Leste, menarik persamaan antara pengorbanan Xanana Gusmão dan ayahnya, presiden pendiri Indonesia Sukarno, yang keduanya mengalami bertahun-tahun dipenjara atau diasingkan selama gerakan kemerdekaan masing-masing.
Upacara tersebut diakhiri dengan suasana yang lebih ringan ketika Megawati mengenang kunjungan pertamanya ke Dili, bercanda tentang keterkejutannya akan pedasnya cabai rawit Timor-Leste dan mengungkapkan bahwa ia telah meminta stafnya untuk membeli beberapa cabai dari pasar lokal untuk dibawa pulang ke Jakarta.***

