Netizen Asia Tenggara Bangkit, K-pop Digugat

TIMOROMAN.COM-Konflik daring antara penggemar K-pop Korea Selatan (Knetz) dan penggemar Asia Tenggara (SEAblings) semakin menunjukkan bagaimana media sosial bisa menjadi arena pertarungan identitas budaya. Insiden fansite Korea yang membawa kamera ke konser Day6 di Kuala Lumpur memicu kritik dari penonton Malaysia, namun dibela oleh Knetz. Dari sinilah solidaritas SEAblings terbentuk, melibatkan netizen dari Indonesia, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Vietnam.

Menurut data Drone Emprit, isu “Knetz vs SEAblings” disebut lebih dari 18.000 kali dengan 222 juta interaksi lintas platform. Konflik ini tidak hanya soal aturan konser, tetapi berkembang menjadi perdebatan tentang rasisme dan diskriminasi. Banyak unggahan dari Knetz yang berisi ejekan rasis terhadap warga Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Mumpuni Ken Desti, penggemar K-pop asal Indonesia, mengaku mulai jenuh. “Kalau misalkan mau ke luar negeri, ke Korea jadi last option,” ujarnya. Ia kini lebih memilih mengikuti girl band lokal No Na untuk menghindari drama online.

Peneliti budaya pop Korea di BRIN, Ranny Rastati, menilai konflik ini bisa membuka peluang bagi negara lain. “Kalau dua negara seperti China dan Thailand bisa mengambil momentum dari kejadian Knetz versus SEAblings, ini mungkin bisa memperkuat dominasi mereka terhadap K-Pop,” katanya.

Ivy Tania, mantan trainee K-pop asal Indonesia, juga mengungkap pengalaman rasisme saat berada di Korea. “Tante-tante yang jaga konternya langsung berteriak ‘keluar, keluar!’ … benar-benar kasar banget sama kita,” ujarnya. Pengalaman ini membuatnya berhenti menjadi penggemar K-pop.

Dr Jihye Kim, dosen Studi Korea di University of Melbourne, menjelaskan akar masalahnya. “Keyakinan kuat terhadap homogenitas etnis mempersulit penerimaan penuh terhadap keragaman setelah angka imigrasi meningkat,” katanya.

Adam Zulawnik, pakar studi Korea di universitas yang sama, menambahkan, “Yang kita lihat adalah keterlambatan budaya, di mana sikap domestik Korea Selatan terhadap dunia luar tertinggal, khususnya setelah eksposur global besar dari K-pop.”

Konflik ini menunjukkan paradoks besar: K-pop mendunia, tetapi di dalam negeri Korea masih bergulat dengan isu diskriminasi. Permintaan maaf dari sejumlah kreator konten Korea memang muncul, namun luka di kalangan penggemar Asia Tenggara sudah terlanjur dalam.****

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *