Timor-Leste: Seruan untuk Pengabdian Tanpa Pamrih pada Misa Krisma Dini
TIMOROMAN.COM-Selama Misa Krisma di Katedral Dili, Timor-Leste, Uskup Agung Virgílio do Carmo da Silva mengajak para klerus dan umat beriman untuk menemukan kembali panggilan, persatuan, dan misi mereka yang berakar pada Kristus.
“Kita belajar dari para misionaris kita yang telah berada di sini selama lebih dari 500 tahun, dari mereka yang telah mengorbankan hidup mereka untuk negara kita hingga saat ini,” kata Uskup Agung Virgilio saat memimpin perayaan tersebut, sebelum mengajak hadirin untuk “meneladani contoh pengabdian tanpa pamrih mereka sebagai model iman yang kita anut dan jalani setiap hari”.
Saat Gereja bersiap menyambut Pekan Suci, Keuskupan Agung Dili berkumpul untuk Misa Krisma di Katedral Dili pada tanggal 26 Maret 2026. Secara tradisional dirayakan pada Kamis Putih, misa ini diadakan lebih awal karena alasan pastoral. Misa tersebut menyatukan para imam, diakon, orang-orang yang dikuduskan, seminaris, dan umat beriman dalam tanda nyata persekutuan dengan uskup mereka.
Inti dari perayaan tersebut adalah pengudusan Minyak Krisma Suci, minyak yang digunakan dalam sakramen sepanjang tahun, serta pembaharuan janji imamat.
Tanda persatuan dan panggilan
Dalam khotbahnya, Uskup Agung Virgílio menekankan bahwa Misa Krisma adalah ungkapan mendalam tentang persatuan di dalam Gereja.
“Misa ini juga merupakan simbol persatuan, menyatukan para imam, diakon, orang-orang yang dikuduskan, seminaris, mahasiswa, dan umat beriman dengan uskup mereka,” katanya.
Ia mengingatkan para imam akan identitas dan misi bersama mereka sebagai presbiterat yang bersatu dengan uskup mereka, memperbarui komitmen mereka untuk melayani umat Allah.
“Para imam, bersama dengan uskup mereka, membentuk presbiterat untuk memperbarui kaul ketaatan mereka… dan keinginan mereka untuk mengabdikan diri kepada umat Maromak,” katanya.
Uskup Agung juga mengajak umat beriman untuk berdoa bagi para diakon dan mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk pelayanan, agar mereka dapat menjadi instrumen rahmat Tuhan.
Kembali ke sumber panggilan hidup
Dengan merenungkan Injil, Uskup Agung menyerukan kepada para klerus dan umat beriman untuk menemukan kembali akar panggilan mereka di dalam Kristus.
“Pada hari penahbisan kami, kami mengakui bahwa kami hanya dapat menjadi bagian dari sejarah ini melalui kisah Yesus dari Nazaret,” katanya.
Dia menjelaskan bahwa pelayanan yang otentik mengalir dari perjumpaan pribadi dengan Kristus, yang mengungkapkan baik identitas maupun misi-Nya.
“Jika kita mengikuti Yesus, pelayanan kita akan menjadi pelayanan pengharapan bagi umat Allah,” tambahnya.
Uskup Agung mendorong para imam untuk merenungkan kisah hidup dan panggilan mereka sendiri dengan kesadaran yang diperbarui, serta mengenali kehadiran Tuhan dalam perjalanan mereka.
Berakar pada Kitab Suci dan tradisi
Uskup Agung Virgílio menyoroti pentingnya Kitab Suci dan tradisi sebagai dasar kehidupan dan pelayanan Kristen.
Ia mendesak para pendeta dan umat beriman untuk membaca, merenungkan, dan menghayati Firman Tuhan setiap hari, serta membiarkannya membimbing pelayanan mereka di dunia.
“Ketika kita pergi ke dunia untuk melayani orang lain, Kitab Suci menjadi penuntun kita,” jelasnya.
Mengingat pemberitaan Yesus di Nazaret, ia menunjuk pada misi yang dipercayakan kepada setiap orang Kristen:
“Roh Tuhan ada padaku… untuk memberitakan kabar baik kepada orang miskin… untuk menyatakan kebebasan kepada orang-orang yang ditawan… dan untuk membebaskan orang-orang yang tertindas.”
Karunia dan tanggung jawab imamat
Uskup Agung menggambarkan imamat sebagai karunia berharga yang dipercayakan Tuhan untuk melayani umat-Nya.
“Syukur kepada Tuhan atas imamat ini. Ini adalah karunia berharga yang kita terima dari Tuhan untuk umat-Nya,” katanya.
Ia mengajak para imam untuk meneliti bagaimana mereka menghayati karunia ini dalam pelayanan sehari-hari mereka, tetap setia meskipun menghadapi tantangan.
“Meskipun terkadang kita mungkin tersandung, Tuhan tetap bersama kita,” ia mengingatkan mereka.
Pengudusan Minyak Krisma Suci, tambahnya, menandakan transformasi dan pelayanan yang berkelanjutan, sebuah tanda nyata kehadiran dan tindakan Tuhan dalam kehidupan Gereja.
Seruan untuk persaudaraan dan pengabdian
Dalam konteks Gereja sinodal, Uskup Agung Virgílio menekankan pentingnya persaudaraan di antara para pendeta dan kedekatan dengan umat.
“Kita hidup di zaman Semangat sinodal… laksanakan pelayanan Anda dengan dekat dengan umat Maromak dan dalam solidaritas dengan sesama imam,” katanya.
Menggemakan ajaran Paus Leo XIV, ia mendorong para imam untuk membangun hubungan yang autentik melalui doa bersama, studi, dan kehidupan komunitas.
“Paus mengingatkan kita bahwa di dalam Gereja, kita tidak berfokus pada pencarian kekuasaan, tetapi pada merangkul spiritualitas pelayanan dan kerendahan hati,” ujarnya.
Bersaksi melalui misi
Uskup Agung juga mengenang teladan para misionaris yang telah melayani Timor-Leste selama beberapa generasi, banyak di antara mereka yang mengorbankan nyawa mereka untuk menjadi saksi iman.
“Kita belajar dari para misionaris kita yang telah berada di sini selama lebih dari 500 tahun… marilah kita meneladani contoh pengabdian tanpa pamrih mereka,” katanya.
Ia mengakhiri pidatonya dengan mengajak seluruh umat beriman untuk memperbarui komitmen mereka terhadap misi Kristus dengan kesabaran, pengorbanan, dan pengabdian.
Saat Gereja memasuki Pekan Suci, Misa Krisma di Dili menjadi pengingat akan persatuan, misi, dan harapan yang mengalir dari Kristus, menyeru semua umat beriman untuk menjalani panggilan mereka dengan iman dan pengabdian yang diperbarui.***

