Mi Instan Air Dingin Diklaim Lebih Sehat, Faktanya?

TIMOROMAN.COM-Mi instan cup air dingin pertama dari Jepang, yang dapat diseduh dengan air dingin, baru saja diluncurkan di Hong Kong.

Sebuah jaringan toko lokal mempromosikannya sebagai “penawaran terbatas satu hari,” yang menarik banyak orang yang mengantre di bawah suhu melebihi 30°C.

Banyak supermarket dan platform online cepat habis stoknya, sehingga menimbulkan perbincangan luas.

Produk ini diklaim memiliki tekstur yang segar dan tidak terlalu berminyak, sehingga beberapa orang percaya bahwa “mi dingin memiliki lebih sedikit kalori.” Namun, apakah benar-benar lebih sehat?

Ahli gizi Krista Chan dari Nutri Life Centre ditemui oleh Sing Tao Headline untuk menjelaskan fakta nutrisi di balik produk ini.

Produsen mengklaim produk ini dirancang khusus untuk cuaca panas.
Setelah lima tahun penelitian, mereka mengembangkan teknologi yang dipatenkan, memungkinkan mi siap setelah direndam dalam air bersuhu 5–10°C hanya dalam waktu lima menit.

Banyak konsumen awal di Hong Kong mengatakan mi instan air dingin terasa lebih ringan dan lebih sehat.
Namun, ahli gizi Krista Chan menjelaskan bahwa label nutrisi menunjukkan kandungan kalori, lemak, karbohidrat, dan natrium pada mi instan air dingin tidak berbeda signifikan dari mi instan air panas tradisional—memakannya dingin bukan berarti “lebih sedikit kalori.”

Chan mengingatkan bahwa mi digoreng, sehingga lemaknya lebih tinggi dibandingkan mi yang tidak digoreng (seperti mi segar).
Kuahnya juga memiliki kandungan natrium yang tinggi.Bagi penderita tekanan darah tinggi atau orang yang sedang diet, ia menyarankan konsumsinya hanya sesekali, bukan sebagai makanan utama setiap hari.

Dari sudut pandang nutrisi, tidak ada konsep “makanan dingin merusak limpa dan lambung.” Namun, baik disajikan dingin atau panas, mi instan adalah makanan tinggi lemak yang memerlukan waktu lebih lama untuk dicerna.

Chan menyarankan kepada orang dengan pencernaan yang lemah, perut sensitif, dan lansia untuk mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak, termasuk mi instan.

Beberapa netizen menyarankan mengganti air dingin dengan susu dingin, susu kedelai, atau teh hijau.
Chan menganalisis setiap pilihan:

– Susu: Mengandung lemak dan protein, sehingga meningkatkan kalori.
– Susu kedelai: Jika dicampur pemanis, akan menambah asupan gula.
– Teh hijau (tanpa pemanis): Tidak mengandung kalori, lemak, atau gula tambahan.

Jika harus memilih, Chan menyarankan teh hijau tanpa pemanis karena tidak menambah kalori.

Mengenai risiko keamanan pangan akibat menyeduh mi dengan air dingin, Chan menjelaskan bahwa mi tersebut sudah diproses untuk bebas bakteri, sehingga menyeduhnya dengan air dingin atau panas aman.

Namun, dalam cuaca panas dan lembap, membiarkan mi terlalu lama (misalnya satu jam atau lebih) bisa memungkinkan pertumbuhan bakteri karena kondisi lembap dan suhu.

Dia menekankan: “Tidak peduli disajikan dingin atau panas, Anda harus mengonsumsinya sesegera mungkin setelah diseduh.”****

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *