Jangan Sembarangan Merawat Kulit saat Karhutla

TIMOROMAN.COM-Paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengancam saluran pernapasan, tetapi juga menyimpan bahaya tersembunyi bagi kesehatan kulit wajah.

Partikel mikro berbahaya seperti PM2.5, sulfur dioksida, dan zat kimia beracun yang terkandung dalam asap kebakaran terbukti mampu menembus pori-pori dan merusak lapisan pelindung kulit (skin barrier).

Kondisi lingkungan yang memburuk ini sering kali memicu keluhan massal berupa kulit kering ekstrem, iritasi kemerahan, hingga kemunculan jerawat secara mendadak.

Merujuk pada ulasan medis dari media kesehatan internasional, polutan udara bebas yang menempel pada wajah dapat memperparah peradangan sel sekaligus melumpuhkan kelembapan alami kulit. Kondisi ini membuat pemilik tipe kulit sensitif, pejuang jerawat, maupun penderita eksim akan menghadapi tantangan yang jauh lebih berat selama musim kabut asap berlangsung karena kulit mereka menjadi jauh lebih reaktif dan rapuh.

Menyikapi fenomena ini, pakar dermatologi terkemuka dari American Academy of Dermatology (AAD), dr. Joshua Zeichner, membagikan panduan klinis mengenai pentingnya menyederhanakan rutinitas perawatan wajah (skincare minimalist) sebagai tameng utama.

Saat kulit sedang berjuang melawan stres oksidatif akibat polusi karhutla, langkah pertama yang wajib diubah adalah metode pembersihan wajah. Masyarakat disarankan untuk menerapkan teknik double cleansing menggunakan pembersih berbahan dasar lembut (gentle cleanser) demi meluruhkan jelaga tanpa mengikis minyak alami wajah, serta menghindari kebiasaan mencuci muka berlebihan yang justru memicu iritasi kontak.

Lebih lanjut, dalam edukasi klinis yang dipublikasikan oleh British Skin Foundation, pakar kesehatan kulit internasional dr. Anjali Mahto sangat menekankan penggunaan pelembap (moisturizer) yang kaya akan kandungan Ceramide dan Hyaluronic Acid (asam hialuronat).

Kombinasi bahan aktif ini berfungsi membangun benteng buatan untuk mengunci kadar air di dalam jaringan kulit sekaligus menghalau partikel mikro asap agar tidak menempel langsung pada sel epidermis.

Dukungan dari zat antiinflamasi seperti Niacinamide juga dinilai sangat baik untuk meredakan kemerahan akibat iritasi udara kering.

Selama periode kabut asap pekat, para dokter spesialis kulit dari lembaga dunia tersebut juga memberikan peringatan keras untuk menghentikan sementara aktivitas eksfoliasi fisik menggunakan scrub kasar maupun penggunaan bahan aktif berkonsentrasi tinggi seperti retinoid dan asam pengelupas (AHA/BHA) yang dijual bebas.

Kulit yang terpapar polutan berada dalam kondisi super sensitif, sehingga memaksakan eksfoliasi justru akan menciptakan robekan mikro pada skin barrier dan mempercepat infeksi bakteri penyebab jerawat parah.

Selain perlindungan dari luar lewat kosmetik dan penggunaan masker respirator rapat, perlindungan fisik dan hidrasi internal tetap memegang peranan penting. Masyarakat yang terpaksa beraktivitas di zona karhutla diimbau untuk selalu mengenakan pakaian tertutup atau jaket guna melindungi kulit tubuh dari paparan jelaga, serta melipatgandakan konsumsi air putih minimal dua hingga tiga liter per hari demi menjaga kelembapan sel kulit dari dalam.

Jika gejala kulit mengelupas, gatal parah, atau jerawat meradang tidak kunjung membaik, disarankan untuk segera melakukan konsultasi dengan dokter spesialis kulit guna mendapatkan penanganan medis yang tepat.****

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *