Tari Sasando NTT Pukau Warga Havana

By on July 4, 2013 , 116 views
susando
Digg ThisShare via email

Timoroman.com- Ratusan orang dari berbagai negara memadati Museo Nacional de Bellas Artes dan Instituto Superior de Artes Havana, Cuba, untuk menyaksikan kepiwaian Yakub Bullan memainkan jari jemarinya memetik Sasando, alat musik tradisional dari Pulau Rote itu.  Selain itu, mereka juga menyaksikan peragaan busana tenun ikat dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dikoordinir Alfonsa, salah seorang pegiat tenun ikat dari Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka di Pulau Flores.

“Alunan musik Sasando pada malam budaya Indonesia di Museo Nacional de Bellas Artes dan Instituto Superior de Artes ini seakan menggetarkan Havana, dan peragaan busana tenun ikat dari NTT ini benar-benar memukau dunia,” komentar Duta Besar RI untuk Cuba merangkap Jamaica dan Bahamas, Foun Cornelis Teiseran dalam surat elektroniknya kepada Antara di Kupang, Rabu (12/6/2013).

Pertunjukkan alat musik Sasando dan peragaan busana tenun ikat NTT di dua gedung pertunjukkan di Havana, ibu kota Cuba, pekan lalu itu, untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia memiliki beraneka ragam budaya yang masih tetap lestari meski sudah berada pada titik peradaban modern.

“Kerinduan saya seakan terobati dengan pertunjukkan musik khas NTT Sasando dan peragaan busana tenun ikat NTT di Havana. Saya ingin, budaya kita juga terangkat di pentas internasional,” kata Dubes Teiseran, putra asli Builaran dari Kabupaten Belu, NTT yang berbatasan dengan negara Timor Leste itu.

Menurut dia, ada sekitar 250 orang yang hadir pada malam pentas budaya Indonesia di Havana tersebut. Mereka berasal dari kalangan pemerintah, anggota parlemen, politisi, korps diplomatik serta para seniman terkemuka dunia di Cuba.

Menteri Kebudayaan Cuba Rafael Bernal juga hadir pada malam budaya Indonesia yang menampilkan Sasando dan peragaan busana tenun ikat dari NTT itu. Duta Besar Cuba untuk Indonesia Miguel Angel Ramirez juga ikut menyaksikan pementasan budaya dari NTT di Museo Nacional de Bellas Artes Havana.

“Dubes Ramirez bersama isterinya baru pulang dari Indonesia mendampingi Menteri Luar Negeri Cuba Bruno Rodrigues Parilla, namun beliau seakan hanyut dalam pentas budaya Indonesia di Museo Nacional de Bellas Artes Havana itu,” ujarnya.

Tampilkan NTT ke Pentas Internasional
Dubes Teiseran mengatakan penyelenggaraan budaya Indonesia dengan menampilkan budaya dari NTT itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaya Kedubes RI Havana untuk meningkatkan pemahaman masyarakat Cuba tentang Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang multi etnis dan multi budaya.

Ketika bercakap-cakap dengan Antara suatu ketika di Jakarta, Dubes Teiseran memiliki sebuah obsesi yang besar untuk menampilkan budaya NTT di pentas internasional.  Ia terinspirasi dengan pameran batik dari keramik yang digelar isteri Dubes Portugal untuk Indonesia di Museum Tekstil Jakarta kala itu. “Kita memiliki potensi budaya yang begitu luar biasa, namun jarang dipentaskan di panggung internasinal sehingga dunia luar kurang mengetahuinya,” ujar Teiseran.

Museo Nacional de Bellas Artes dan Instituto Superior de Artes Havana menjadi saksi bisu sejarah pementasan budaya NTT malam itu. Para hadirin dari berbagai elemen dunia itu, tak henti-hentinya memberikan aplaus ke Yakub Bullan dengan piawainya memetik Sasando untuk mengiringi para peraga yang tengah memamerkan tenun ikat saat itu.

Para hadirin menjadi tambah kagum ketika Yakub Bullan memainkan beberapa instrumentalia barat (internasional) dengan Sasando. “Sasando tidak hanya memainkan musik lokal NTT semata, tetapi juga musik serta instrumentalia barat yang membuat para hadirin seakan tak mau bangkit dari duduknya,” komentar Dubes Teiseran.
Ketika pementasan di dua gedung pertunjukkan itu usai, para hadirin pun langsung mengerumungi alat musik Sasando yang terbuat dari bambu dan daun lontar itu serta busana tenun ikat asal NTT yang beraneka warna itu.

lat musik Sasando asal Pulau Rote ini merupakan salah satu instrumen musik yang dimainkan dengan cara dipetik. Sasando berasal dari kata “sasandu”–bahasa Rote–yang artinya alat yang dapat dibunyikan atau bisa bergetar.

Di Indonesia instrumen musik ini tidak begitu populer karena masih banyak yang belum paham tentang Sasando, berbeda dengan Eropa dan Australia. Di negara tersebut, banyak penikmat musik yang menggemari alat musik tradisional Indonesia ini. Alat musik tradisional Sasando ini terbuat dari bahan baku daun pohon lontar yang dibentuk melengkung sampai menjadi seperti setengah bundaran.  Wadah yang berbentu seperti bundaran dari daun pohon lontar ini berfungsi sebagai resonansi.

Kedua ujung daun pohon lontar tersebut diikatkan pada potongan bambu sehingga bambu tersebut terlihat seperti memiliki garis tengah di antara bundaran dari daun lontar tersebut, sedang di bagian tengahnya diberikan ganjalan untuk meletakkan senar atau dawai. Setiap ganjalan akan menghasilkan nada yang berbeda ketika senar dipetik. Sasando menjadi unik dengan alat musik petik lainnya, karena terdiri dari 28 senar bahkan ada juga yang memiliki 56 dan 84 senar.

Keindahan bunyi Sasando mampu menangkap dan mengekspresikan beraneka macam nuansa dan emosi. Karena itu, dalam masyarakat Nusa Tenggara Timur, Sasando adalah alat musik pengiring tari, penghibur keluarga saat berduka, menambah keceriaan saat bersukacita, serta sebagai hiburan pribadi.

Jenis-jenis Sasando dapat dibedakan dari jumlah senarnya, yaitu Sasando engkel (dengan 28 dawai), Sasando dobel (dengan 56 dawai, atau 84 dawai), Sasando gong atau Sasando haik, dan Sasando biola.

“Sasando telah menggetarkan Havana, dan tenun ikat NTT telah memukau dunia pada malam pentas budaya di Museo Nacional de Bellas Artes dan Instituto Superior de Artes Havana,” komentar Dubes Teiseran.

Sebelum di Havana, pertunjukkan Sasando dan Tenun Ikat NTT telah tampil di Chile, Peru, dan Panama. Usai di Havana, pertunjukkan berikutnya akan dilakukan di Mexico dan Ekuador. Kegiatan tersebut terlaksana atas kerjasama enam Kedutaan Besar Republik Indonesia di Amerika Latin dan Karibia, yaitu KBRI Chili, Peru, Panama, Cuba, Mexico dan Ekuador.  “Pertunjukkan musik Sasando di Havana ini adalah yang pertama kalinya. Obsesi saya untuk menghadirkan budaya dari NTT untuk dipentaskan di panggung dunia, kini sudah terwujud. Sasando benar-benar telah menggetarkan Havana, negerinya Fidel Castro,” demikian Dubes Foun Cornelis Teiseran.(laurensius molan/antara/pk)

Digg ThisShare via email

About yulio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*