Festival Likurai Datangkan Wisatawan di Timor Leste

TIMOROMAN.COM– Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur terus menggenjot arus wisatawan mancanegara (wisman) dari negara tetangga Timor Leste dengan menyajikan event tahunan berupa Festival Likurai di Kabupaten Belu. “Festival Likurai sudah menjadi bagian dari event nasional yang akan digelar secara tahunan.

Ajang ini sebagai upaya pemerintah menggenjot arus wisatawan yang dari Timor Leste,” kata Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Timur Marius Ardu Jelamu di Kupang, Sabtu (17/3), dilansir Antara. Ia menyebutkan NTT memiliki empat kegiatan pariwisata yang sudah masuk dalam kalender 100 top event nasional, di antaranya Festival Likurai di Pulau Timor, parade ribuan kuda sandelwood dan festival tenun ikat di Pulau Sumba, serta Festival Komodo dan Tour de Flores di Pulau Flores.

Festival Likurai sendiri, kata Marius, akan digelar setiap tahun di Bukit Fulan Fehan, Kabupaten Belu yang bebatasan langsung dengan Timor Leste. “Sekitar Juni mendatang akan digelar lagi Festival Likurai ini,” katanya.

Festival tersebut, kata dia, menghadirkan ribuan penari Likurai yang berasal dari Timor Barat (sebutan untuk daerah-daerah di Pulau Timor bagian barat yang berbatasan dengan Timor Leste) dan juga dari negara tetangga. “Tidak hanya menghadirkan masyarakat dari kedua wilayah ini, tetapi juga wisatawan dari berbagai negara yang masuk melalui Timor Leste,” katanya.

Menurut Marius, arus wisatawan dari Timor Leste berpotensi terus meningkat karena negara tersebut juga memiliki layanan penerbangan langsung intenasional, seperti Dili dan Darwin Australia, maupun Dili dan Singapura. Begitu pula sebaliknya. Selain itu, ada pula layanan maskapai Timor Air juga sudah membuka rute penerbangan langsung Kupang-Dili dan sebaliknya. “

Artinya, akses penerbangan makin terbuka sehingga sangat mendukung pergerakan wisatawan asing yang masuk ke NTT melalui pintu timur dari Timor Leste untuk terus meningkat,” katanya.

Sejumlah pos lintas batas negara (PLBN), kata dia, dibangun dengan megah, seperti PLBN Motaain Kabupaten Belu, PLBN Wini Kabupaten Timor Tengah Utara, dan PLBN Motamasin Kabupaten Malaka, memungkinkan arus wisatawan bergerak lebih lancar.

“Apalagi, lokasi PLBN dengan bangunannya yang sangat megah ini juga menjadi daya tarik tersendiri sebagai objek wisata baru di wilayah perbatasan antarnegara,” katanya.

Marius menambahkan bahwa telah berkoordinasi dengan pihak keimigrasian dan sejumlah instansi, aparat keamanan, dan sejumlah instansi terkait di PLBN guna memastikan arus wisatawan dari negara tetangga itu bisa masuk dengan mudah sesuai dengan standar keamanan yang ada.

Ia mengemukakan bahwa aktivitas pelintas batas telah menunjukkan peningkatan dari sebelumnya rata-rata sebanyak 100 orang per hari terus naik dan mencapai 250 orang per hari. “Saya yakin seiring dengan terbukanya layanan penerbangan dan pengembangan infrastruktur di perbatasan ini akan memudahkan arus wisman masuk ke NTT, apalagi sudah didukung dengan kebijakan bebas visa dari pemerintah Indonesia,” kata Marius Jelamu.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *